Senin, 02 Februari 2009

Ta'aruf

Semua berawal dari kedua mata
Ketika aku hanya berani mencuri pandang wajahmu disana
Dengan pakaian rapat tak kau biarkan auratmu terbuka
Karena memang tak selayaknya bisa dipandang oleh sembarang mata
Maka seiring perjalanan masa
Kumulai beranikan diri untuk bertanya
Tuk selanjutnya berbagi cerita
Telah kukatakan kepadamu semenjak awal mula
Bahwa aku adalah lelaki ibuku sepanjang masa
Sebagai wujud bakti sebagaimana rasul telah bersabda
“ibumu,ibumu,ibumu!” begitulah dalam sebuah hadits yang pernah kubaca
“lalu ayahmu!” sebagai kelanjutan ucapan dari lidah yang mulia
Sebuah jawaban darimu membuatku begitu lega
Kau berkata bahwa lebih baik memiliki suami yang berbakti daripada yang durhaka
Kau berkata bahwa lebih baik memiliki suami yang dermawan daripada yang bakhil harta
Dan kaupun berharap bahwa pendampingmu kelak bisa membuatmu bahagia
Kau pernah berkata ingin segera menikah sebagai suatu rencana
Bila Allah kelak mempetemukanmu dengan jodoh pilihan-Nya
Agar mampu menjaga kemurnian dan kesucian
Niatmu dalam mewujudkan berbagai cita
Serta menjadikanmu lebih kuat kala cobaan dan ujian datang menerpa
Karena akan ada seseorang yang insya Allah akan mendampingi senantiasa
Namun yang harus kau tahu adalah bahwa aku lelaki biasa
Segala kelemahan dan kelebihan pastilah kupunya
Senanglah hatiku ketika mengetahui dirimu rutin dalam sebuah tarbiyah
Tidak seperti aku yang hanya pernah masuk madrasah
Mulai ibtidaiyah,tsanawiyah namun tidak lanjut ke aliyah
Namun aku sekarang sudah lulus kuliah
Saat inipun aku sudah memiliki ma’isyah
Teman-temanku berkata,bahwa sudah waktunya bagiku mencari ‘aisyah
Mungkin dengan simpanan yang ada cukuplah untuk sebuah walimah
Tentu saja yang sederhana dan bukan yang meriah
Dan aku pun belum sanggup untuk menyediakanmu sebuah rumah
Karena itu kuberpikir untuk mengontrak dulu sajalah
Suatu ketika kau bertanya tentang poligami
Kujawab bahwa itu adalah ketentuan Ilahi
Tentu saja aku menyetujui
Lantas kau betanya apakah aku akan melakukannya suatu saat nanti
Kujawab apa mungkin bila adil sebagai syarat utama tak mampu kumiliki
Engkau tersenyum di mulut atau mungkin sampai ke hati
Sambil mengakui bahwa dirimu belum bisa menerima bila hal itu terjadi
Dan dirimu juga tak bisa menyamai saudah binti zam’ah istri sang nabi
Yang tulus ikhlas kepada ‘aisyah dalam berbagi
Suatu ketika giliran aku bertanya tentang kemampuan bertilawah
Kau menjawab bisa walau tak mau dibandingkan dengan para qoriah
Karena kau merasa masih banyak berbuat salah
Dalam mengucap hukum tajwid dan huruf-huruf hijaiyah
Insya Allah kita akan bersama-sama belajar bila kelak kita menikah
Untuk mewujudkan keinginanmu agar bisa menerangi setiap ruang rumah
Dengan alunan suara al-quran yang merupakan ayat-ayat qauliyah
Dari situ mungkin kita bisa membaca ayat-ayat kauniyah
Untuk memastikan keyakinanmu untuk menikah
Akupun mengundangmu ketempat temanku seorang murabbiyah
Dan tak lupa kau undang aku tuk datang kerumah
Sebagai awal perkenalan dengan bunda dan ayah
Dan sebuah titik temu tercapailah
Istikharah mencari jawaban untuk menggapai alhubfillah wa lillah
Dalam doa ku bersimpuh pasrah
Memohon datangnya jawaban kepada Sang Pemberi Hidayah
Bila jawaban itu masih menggantung dilangit,maka turunkanlah
Bila jawaban itu masih terpendam diperut bumi,maka keluarkanlah
Bila jawaban itu sulit kuraih,maka mudahkanlah
Bila jawaban itu masih jauh,maka dekatkanlah
Terima kasih atas ta’aruf yang indah
Bila datang jawaban itu,ku mohon agar memanggil dengan sebutan “kangmas”

1 komentar:

jampang mengatakan...

kenapa tidak dicantumkan sumber aslinya dari http://jampang.multiply.com/journal/item/62 atau http://jampang.blogspot.com/2005/09/sebuah-taaruf-yang-indah.html